Minggu, 25 Januari 2009

MENIPU PARA BUAYA



MENIPU
PARA BUAYA

Kancil memang bertubuh kecil, tapi otaknya cerdas, kalau adu lari pasti dia kalah, maka ia selalu menipu lawannya dengan akalnya yang cerdik.

Cukup lama kancil berjalan, tanpa ia sadari akhirnya kancil sampai di tepi i sungai “ wah bagaimana cara menyebrangnya ? sepertinya sungai ini cukup dalam.” Kancil merenung sejenak mencari akal. “ nah ketemu sekarang !” Ia berjalan ke arah rerumpunan pohon pisang yang masih kecil. Dengan sekuat tenaga ia dorong-dorong batang pohon pisang itu hingga satu persatu roboh.

Lho ? Apakah yang akan diperbuatnya dengan batang pohon pisang itu ?

Aha ……… ternyata si kancil mau membikin rakit untuk menyebrangi sungai.

Pintar juga dia, kini setelah rakitnya jadi ia tarik ke tepi sungai.

“ Aduh beratnya minta ampun.” Kancil mengeluh.

Tanpa disadari kancil seekor buaya besar mengintainya dari belakang dan …. Hup ! dalam sekejap kaki kancil sudah diterkam sang buaya.

“ Aduh Pak Baya ! Tunggu sebenar ………..! “

“ Tunggu apa lagi cil ? perutku sudah lapar nih !”

“ Jangan kuatir Pak Baya, aku tak mungkin bisa melawanmu, tapi aku sedang lapar juga, jadi biarkan aku mencari makan dulu !”

Anehnya Pak Baya mau mendengarkan omongan kancil, ia lepaskan gigitannya pada kaki kancil. “ salah satu dari kalian harus mengantarku ke seberang untuk mencari makanan biar tubuhku jadi gendut dan cukup untuk kalian santap bersama “

“Cil ! Kau jangan coba-coba menipuku ya ?” ancam Pak Baya.

“Mana aku berani menipumu Pak Baya !”

“Baik, sekarang kuantar kau ke seberang sungai, di sana banyak makanan buah-buahan.”

Maka kancil segera naik ke punggung Pak Baya untuk menyebrang.

“Wah ! Asyiiiik …….!” Kata kancil dengan riang gembira.

“nikmatilah kegembiraanmu karena sebentar lagi kau akan masuk ke dalam perutku.” Pikir Pak Baya.

“Ingat Cil jangan coba-coba menipuku, “ kata Pak Baya sambil menunggu di pinggir sungai, sementara kancil mencari buah-buahan untuk disantap sepuasnya.

Tak berapa lama kancil muncul lagi dengan perut lebih gendut, rupanya sudah kenyang dia makan.

“Pak Baya berapa jumlah temanmu ?”

“Banyak Cil !”

“Banyaknya itu berapa dihitung dong !”

“Belum pernah kuhitung Cil !”

“Wah payah bagaimana cara membagi dagingku nanti ?”

“Baiklah, aku yang menghitung jumlah kalian, sekarang berbarislah dengan rapi membentuk jembatan hangga ke seberang sana. “

“Setuju Cil ! Tapi karena aku pemimpin Buaya di sungai ini maka aku berhak mendapat bagian pahamu !”

Tak berapa lama kancil muncul lagi dengan perut lebih gendut, rupanya sudah kenyang dia makan.

“ Pak Baya berapa jumlah temanmu ?” “Banyak Cil !”

“Banyak itu berapa dihitung dong !”

“Belum pernah kuhitung Cil !”

“Wah payah bagaimana cara membagikan dagingku nanti ?”

“Baiklah, aku yang menghitung jumlah kalian, sekarang berbarislah dengan rapi membentuk jembatan hingga ke seberang sungai sana”.

“Setuju Cil ! tapi karena aku pemimpin Buaya di sungai ini maka aku berhak mendapatkan pahamu !” Para biaya berjajar rapi, Kancil melompat dari punggung buaya yang lain ke punggung buaya yang lainnya sambil menghitung satu, dua, tiga, empat hengga ia sampai di seberang sungai. Begitu sampai di seberang sungai kancil melampaikan tangannya.

“ Terima kasih Pak Baya dan selamat tinggal !”

“ Lho ? Cil kau jangan pergi begitu saja ! Aku belum memakanmu!”

“Apa mau memakan dagingku ? Sorry aja yah !” teriak kancil sampai berlari.

“Dasar kancil !” kamu tak bisa dipercaya ! penipu !” upat para buaya.

“Nggak apa-apa aku menipu kan hanya untuk menyelamatkan diri !”

“Kanciiiiiiiiiiiiiil ! Kembalilah !” teriak para buaya.

Tapi Kancil terus berlari kencang tanpa menghiraukan para Buaya yang hendak memangsanya.



sumber : Bintang Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar