Minggu, 25 Januari 2009

KANCIL DAN SIPUT


KANCIL DAN SIPUT

Alam pedesaan yang subur. Puluhan hektar sawah membentang hijau. Di tengah–tengah sawah yang hijau membentang, terdapat sebuah parit yang membelah cukup panjang.

Di parit itu tinggallah sekelompok Siput yang hidup rukun penuh kedamaian. Antara satu dengan yang lain saling tolong menolong; bahu membah tidak pandang bulu. Yang tua menyayangi yang muda yang muda pun selalu menghormati yang lebih tua.

Setiap pagi mereka pergi untuk mencari makan. Ada di antara mereka yang berjalan menyusuri sepanjang parit hingga sampai ke ujung. Namun ada pula yang menyebar di sawah-sawah yang ada dikanan kiri parit. Ketika sore tiba, mereka baru pulang kerumah mereka masing-masing. Adakalanya di antara mereka yang membawa makanan untuk diberikan kepada anak-anak yang masih kecil di rumah.

Pada suatu hari, tiba-tiba mereka didatangi oleh Si Kancil. Dengan langkah yang begitu meyakinkan, si kancil menyapa seekor siput yang agak jauh dari kawan-kawannya.

“Selamat pagi Siput? bagaimana kabarmu?” sapa si kancil dengan wajah berseri-seri.

“Baik-baik saja!” jawab siput. “Bagaimana dengan dirimu?”

“Seperti yang kamu lihat sendiri, aku tidak kurang apapun!”

“Cil kenapa kamu disebut binatang paling cerdik?”

“Karena aku memang pintar!” kata kancil dengan sombong.

“Oh begitu, seberapa pintarnya otakmu? tanya siput.

“Lho? Kok tanyanya begitu? kamu meledek ya?”

“Ah enggak?”

“Sudahlah put, aku memang dikenal sebagai binatang paling pintar dan kau dikenal sebagai binatang paling malas karena jalanmu yang luaaaaambaaaat. Lambat tahu!” tukas kancil.

“Cil, walau jalanku lambat tapi aku bukan pemalas. Kalau Cuma adu lari cepat denganmu aku jamin kau pasti kalah.”

“Lho? kau menantangku adu lari cepat?”

“Hanya untuk membuktikan bahwa bukan hanya kau yang berlari cepat!”

“Huahahahaha …….hahaaaaa…. siput sipuuuuuut!” Kancil mengejek.

“Kamu berani adu lari cepat Cil?” tanya siput.

“Wah-wah, kau nekad ya Put. Baik mari kita berlomba lari cepat. Kapan dilaksanakan?”

“Besok pagi!” jawab Siput dengan mantap.

Si kancil menjadi heran mendengar jawaban Siput seperti itu.

“Baiklah besok pagi aku kan datang ke parit ini”.

Si kancil melangkah menuju hutan. Sedangkan siput meneruskan usahanya untuk mencari makan. Baru setelah sore hari siput pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Siput berpikir keras untuk menemukan cara yang paling tepat guna memberi pelajaran pada di Kancil. Baru setelah tengah malam, Siput menemukan gagasan yang dianggap palin jitu. Malam itu juga ia mengumpulkan semua Siput yang ada di sekitar tempat itu. Dengan sifatnya yang suka tolong-menolong akhirnya semua Siput bersepakat untuk menaklukkan si Kancil dalam perlombaan lari besok pagi.

Ketika matahari sudah mulai muncul di ufuk timur, semua siput telah berkumpul ditempat yang sudah ditentukan sebagai arena perlombaan. Satu persatu siput-siput tersebut mulai berjejer di sepanjang parit. Mereka semua masuk ke dalam air, kecuali satu Siput yang kemarin bertemu dengan si kancil.

Setela menunggu beberapa saat, si kancil pun datang pula di tempat tersebut. “Selamat pagi Siput!” Apakah kamu sudah siap melawanku hari ini?” tanya Si Kancil dengan sombong.

“Oh tentu, cil!” sahut siput yang sejak tadi telah menunggu. “Aku sudah siap untuk mengalahkanmu“.

“Baik ayo kita laksanakan!” sahut Kancil.

“Begini, Cil!” karena aku tidak bisa lari didaratan, maka aku nanti akan berlari dalam parit, sementara kamu nanti berlari di daratan di atas pematang. Kata siput menjelaskan aturan perlombaan.

“Saya setuju. Mari sekarang kita mulai!” awab si Kancil yang sudah tidak sabar lagi.

Setelah aba-aba dibunyikan, segera keduanya memulai perlombaan. Si kancil langsung berlari diatas pematang, pembatas antara parit dengan sawah. Sementara itu, siput pun masuk ke dalam air di dalam air di parit sebelahnya. Si kancil berlari cukup cepat. Dalam hatinya, ia sudah yakin bahwa dirinya yang akan jadi pemenang. Setelah beberapa saat berlari, ia kemudian berhenti. Ia ingin memastikan, apakah siput mampu mengejarnya ataukah masih ketinggalan jauh di belakang ?

“Siput……..! Sipuuuuuuut ! Sampai dimana kau sekarang?” teriak si kancil untuk mengetahui posisi siput.

“Kuk ……. !” Hai Cil, mengapa kamu baru sampai disitu? Aku sudah berada di depanmu”.

Si kancil terkejut melihat siput muncul berada di depannya. Ia tak menyangka kalau siput mampu mendahului kecepatannya. Si kancil pun berlari lagi. Kali ini, ia berlari lebih cepat daripada sebelumnya. Dirinya tidak ingin dikalahkan oleh siput.

Beberapa saat kemudian si kancil memanggil siput lagi. “ sipuuut ……. ! sampai dimanakah kamu sekarang ?”

Sambil menampakan diri dipermukaan air, Siput pun menyahut, “Kuk, hai …….. Cil ada apa. Mengapa kamu tetap saja dibelakangku!”

Berulang kali si kancil memanggil Siput untuk mengetahui posisinya, tapi saat itu pula si kancil terkejutkarena melihat Siput selalu berada di depannya. Semua tenaga sudah dikerahkan, tapi tetap saja Siput selalu menampakkan diri dan berada di depannya. Akhirnya si kancilpun tak sanggup lagi meneruskan larinya. Ia baru mengakui bahwa siput diam-diam dapat berlari dengan cepat sekali, jauh melebihi kecepatannya.

Apa yang terjadi sesungguhnya, sehingga si kancil dapat dikalahkan oleh Siput? Si kancil ternyata kalah cerdik dengan Siput. Dia tidak menyadari bahwa di dalam parit itu sudah ada ratusan bahkan ribuan Siput-siput yang berjajar sampaii ke ujung. Sehingga setiap kali dia memanggil Siput untuk mengetahui posisinya, saat itu pula yang muncul dan menjawab adalah Siput yang berada di depannya. Jadii dengan begitu Siput yang paling awal sebenarnya tetap saja masih di belakang, di garis start. Namun hal ini tidak diketahui oleh si Kancil hingga selesai perlombaan.

Sumber : Bintang Indonesia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar