Senin, 09 Februari 2009

BABI YANG SOMBONG


BABI YANG SOMBONG

Babi memiliki cukup lemak tubuh. kaki kuat. dalam mulut dengan gigi taring panjang dan tajam. ia menjadi raja di hutan di sana.
Babi sangat ditakuti oleh binatang-binatang lain. Tak seekor binatang pun di sana yang berani melawannya. Anjing hutan tidak berani melawannya. Bahkan singa yang terkenal buas pun tak sanggup mengalahkannya. Tidak mengherankan, karena kekuatan yang besar, dan belum ada yang pernah mengalahkannya. dan ia dinobatkan menjadi Raja Babi.
Sewaktu raja babi berjalan melintasi kerumunan banyak binatang, dengan lantangnya ia berkata, "Ayo, siapa yang berani melawanku?"
Mendengar tantangan Raja Babi yang demikian, semua binatang yang ada di tempat itu semuanya diam. semua takut. tidak ada seorangpun yang berani untuk berbicara beberapa kata juga. Dengan gayanya yang congkak, Raja babi memperlihatkan kekuatannya kepada mereka semua dengan mendorong pohon mangga yang ada di hadapannya hingga tumbang, patah berantakan. demikian juga dengan pohon jambu, disambarnya jatuh tumbang. Tanah diseruduknya habis berterbangan. Raja babi merasa tak ada lawan lagi yang sanggup menandinginya.
Pada saat seperti itu, datanglah si Kancil di tempat tersebut. Raja Babi berkata, "Hai binatang kecil, darimana saja kamu?"
"Dari jalan-jalan mencari udara segar!" jawab si kancil.
"Mengapa kamu tidak mengajakku?" tanya Raja babi.
"Berjalan-jalan sendirian lebih enak, mengapa harus mengajak kamu!" jawab si kancil.
Mendengar ucapan si kancil seperti itu, Raja babi agak tersinggung. ia tidak menyangka bila binatang kecil itu berani berkata-kata meremehkan dirinya. Padahal selama ini semua binatang dalam hutan itu selalu takutpadanya.
"Apa katamu?" ucap Raja babi dengan nada marah. "Apakah kamu belum tahu bahwa aku ini raja hutan yang ditakuti oleh semua binatang di sini, sehingga kamuberani berkata-kata tidak sopan seperti itu? Apakah kamu tidak takut kepadaku?"
"Siapa takut!" tukas si kancil. "Mengapa aku harus takut kepadamu? Bukankah kekuatanmu biasa-biasa saja, seperti binatang lainnya?"
Ucapan si kancil yang demikian, semakin membuat telinga raja babi menadi panas.
kemarahannya sudah tidak bisa dibendung lagi. "Dasar binatang kecil dan bodoh! Sudah saatnya aku sekarang ingin merasakan dagingmu yang lezat!" kata raja babi dengan muka marah.
"Baiklah bila kamu menginginkan dagingku ini. Tapi syaratnya kamu harus bisa mengalahkanku dalam pertandingan yang akan kita lakukan besok pagi di tempat ini juga," kata si kancil menantang.
"Besok kami bertanding menentukan mana yang kuat antara kamu dan aku. Bila kamu menjadi pemenang, silahkan saja kamu memakan dagingku. Akan tetapi bila aku menang, maka kamu harus tunduk kepadaku dan mengakui bahwa akulah yang paling kuat di hutan ini. "
"Bagus sekali usulmu itu binatang kecil!" sahut raja babi menyetujui tantangan sang kancil.
semua binatang yang ada ditempat itu, kemudian pulang kerumahnya masing-masing. mereka akan kembali ketempat itu besok pagi untuk melihat pertandingan antara raja babi dengan si kancil.
Benarkah kancil akan bertindak sebodoh itu. tidak, ia berani menantang raja babi karena sudah punya gagasan. Dua hari yang lalu sang kancil telah membuat topeng yang menyerupai dirinya. Bukan topeng sembarangan, bahannya terbuat dari kayu yang sangat keras. Dengan ketekunan dan kesabaran, akhirnya selesai sudah ia membuat topeng. Topeng itu mirip sekali dengan wajahnya. sehingga bila dipakai, Raja babi akan sulit mengenalinya, apakah ia memakai topeng atau tidak . malam itu kancil sengaja beristirahat untuk mengumpulkan kekuatan dan menghaluskan topengya agar persis dengan wajahnya.
Setelah Fajar menyingsing, semua binatang sudah mulai berkumpul di tempat pertandingan. Mereka semua ingin menyaksikan pertandingan yang awal sangat langka itu. Sorak-sorai pun segera menggema ketika raja babi yang tiba di tempat itu lebih dahulu. Tak lama kemudian si kancil juga telah tiba. sekali lagi sorak-sorai dan tepuk tangan dari para penonton membuat suasana kian semarak.
"Hidup Raja Babi ......! Hidup si Kancil ....! teriak penonton mengelu-elukan keduanya.
Setelah diberikan aba-aba oleh sang Gajah, mulailah permainan itu. Raja babi langsung mengeram dan menyambar si kancil dengan moncongnya. Si Kancil tidak berkelit, tapi dengan tenang menyambut sambaran raja babi.
Mula-mula beberapa kancil terlempar beberapa depa oleh serudukan si raja babi. Namun ia segera bangkit lagi menantang si raja babi. Sementara si raja babi merasa kesakitan yang sangat amat pada moncongnya tak disangka kepala kancil sangat keras.
Karena penasaran raja babi menyeruduk lagi. kancil terlempar namun segera bangun dan menantangnya lagi. Lama-lama moncong si raja babi lecet dan rusak di sana-sini. sementara si kancil tetap segar dan bangkit menantang lagi.
Raja babi merasa moncongnya menjadi sakit sekali, akhirnya ia tidak sanggup lagi meneruskan pertandingan. Sehingga si kancil dinobatkan sebagai pemenang dan Raja babi harus mengakaui bahwa Kancil lebih kuat dari dirinya.

Sumber: Bintang Indonesia

GAJAH YANG PINTAR



Ada seekor gajah. Tubuhnya tinggi, besar dan gemuk. Belalainya panjang dan kuat. Sepasang gadingnya besar lagi kokoh.
Gajah itu sangat baik hati. Tidak jarang dia memberikan makanan kepada binatang-biatang lainnya yang kelaparan. Memberikan pertolongan kepada mereka yang menderita kecelakaan dan kesusahan.
Pada suatu hari, Gajah itu mengadakan perjalanan jauh, berkeliling-keliling hutan. Beberapa lama dia berjalan, hingga sampai menemukan Harimau yang sedang kesakitan, karena kerobohan pohon yang sudah lapuk. "Gajah......., gajah...., tolong aku!" pinta Harimau sambil menahan kesakitan.
Mendengar teriakan Harimau minta tolong, Gajah itu langsung mengangkat pohon yang menindih harimau itu dengan belalainya.
"Terima kasih, kawan!" ucap Harimau. "Seandainya kamu tidak datang menolongku, mungkin aku sudah mati karena himpitan pohon itu. Sekali lagi terima kasih."
"Sama-sama! Bukankah sesama binatang harus tolong menolong!" jawab Gajah merendah. "Tapi, bagaimana sampai engkau kerobohan pohon yang besar ini?"
"Pada awalnya saya berjalan-jalan untuk mencari makan. Tapi belum sampai aku mendapatkan makanan, aku sudah merasa lelah. Saat itulah aku memutuskan untuk berhenti sejenak, melepaskan lelah dengan duduk-duduk di bawah pohon yang sudah kering ini. Ketika ada angin, tiba-tiba pohon roboh dan menimpa diriku. Begitu ceritanya."
"Bila begitu, kamu harus bersyukur karena kamu masih bisa selamat dan hanya mengalami luka-luka sedikit," kata Gajah.
"Ya....., ya....., kamu benar. Karena rasanya tak mungkin ada binatang lain yang sanggup menolongku untuk mengangkat pohon sebesar ini, selain dirimu."
"Sudahlah, kita hidup harus saling tolong menolong."
Demikianlah! Meskipun gajah memiliki kekuatan yang sangat besar sekali, yang tak mungkin dimiliki oleh binatang-binatang lainnya, namun ia tetap rendah hati, tak menyombangkan diri. setelah itu,sang Gajah pun mohon diri kepada Harimau untuk meneruskan perjalanan.
Tidak jauh dari tempat itu, di dekat bukit sebelah sana, seekor kancil sedang asyik menikmati buah-buah mentimun di kebun Pak Tani. Beberapa buah mentimun telah dimakannya. "Perutku kini sudah kenyang, " kata Kancil kemudian. "Aku sekarang harus mencari air untuk minum."
Si Kancil segera meninggalkan kebun itu. Ia berjalan kearah sungai. pikirnya dalam hati, ia dapat minumair sungai dengan sepuas-puasnya. Tapi apa yang ditemuinya? Setelah berjalan sampai di sungai, ia tidak mendapatkan air sedikit pun di sana. Karena saat itu musim kemarau, air sungai menjadi kering. Sehingga tak ada air yang dapat dijadikan untuk membasahi tenggorokannya yang mulai kering.
Dengan langkah agak gontai, wajah sedikit sayu dan kesal, si kancil berjalan berkeliling hutan untuk mencari air minum. Beberapa kali ia harus kecewa karena tiba di pinggir rawa juga tak memperoleh air sedikit pun. Demikian pla ketika ia sampai di tepi danau, ternyata danau yang biasanya airnya melimpah, kini telah kering.
Satu-satunya yang belum dikunjungi oleh si Kancil adalah sebuah kolam besar yang berada di tengah hutan. "Nah, sekarang aku harus cepat-cepat pergi ke kolam itu. mungkin disana aku bisa mendapatkan air minum yang cukup!" katanya dalam hati.
Setelah beberapa saat si Kancil berjalan melewati padang ilalang dan pohon-pohon jati, tibalah dia di kolam itu. "Ternyata benar dugaanku. Masih ada air didalam kolam ini. Walau tinggal separo dan wah cukup dalam juga." gumam si kancil.
Kolam itu sebenarnya danau kecil yang cukup dalam ketika musim kemarau airnya tinggal separo sehingga keadaannya seperti sumur besar dengan dinding terjal.
Tanpa berpikir panjang si kancil langsung terjun ke dalam kolam. Hatinya sangat gembira mendapat air minum sangat banyak sekali. Ia minum dengan sepuas-puasnya. Tenggorokannya kini telah basah. saat itu pula, tenaganya terasa pulih kembali. Badannya kini menjadi segar.
Namun apa yang terjadi kemudian? Tindakannya masuk kolam itu merupakan tindakan paling ceroboh. Ia tidak berpikir bagaimana caranya naik keatas bila ia sudah ada dalam kolam. Kolam itu sangat dalam dan tak ada tangga untuk digunakan naik. Beberapa kali si kancil mencoba untuk memanjat dinding kolam yang terjal, tapi ia tak bisa sampai ke atas. "Tolong.......! Tolooooooong..........!" teriak si kancil, rupanya didengar oleh Sang Gajah yang kebetulan sedang berjalan lewat tempat itu. "Hai, siapa yang ada di dalam kolam?"
"Aku....., tolong aku.....!" jawab si kancil. "siapa kau?" tanya gajah kemudian "aku...aku...si kancil sahabatmu!".
"Mengapa kamu berteriak-teriak minta tolong!" si kancil tidak segera menjawab. Dia berpikir untuk mencari alasan. Rupanya ia tidak mau mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. sebab bila ia mengatakan apa yang terjadi sesungguhnya, pasti ia akan disalahkan oleh Gaah karena kecerobohannya. Ia akan meminta gajah untuk turun ke kolam dan dari punggung gajah itu ia akan naik ke atas kolam.
Maka si kancil pun lalu menjawab, "Tolong aku mengangkat ikan ini."
"Apa kamu memporoleh ikan yang besar?"
"Benar......., benar.....! Aku memperoleh ikan yang sangat besar sekali."
"Tapi bagaimana caranya aku turun ke bawah?" tanya gajah.
"Sebaiknya kamu langsung turun saja kesini! sebab bila tidak cepat-cepat kamu turuni, nanti ikan ini lepas!"
Gajah merenung sejenak. Ia berpikir bisa saja ia turun tapi bagaimana caranya ia naik lagi.
"Cil...., mana ikan yang kau peroleh itu?" tanya gajah.
"Cepat ada disepasang kakiku." kata kancil.
"Kalau aku menolongmu Cil, bagaimana caranya nanti naik dari dalam kolam yang dindingnya terjal ini?".
Kini kancil terdiam. Ia tak menyangka gajah berpikir secerdas itu. Tidak seperti dirinya yang karena kehausan buru-buru terjun ke kolam tanpa memperhitungkan akibatnya.
"Kau hendak memanpaatkan aku ya cil? Hendak menipuku unutuk kepentingan dan keselamatanmu sendiri?" tanya gajah.
Kancil tersiam.
"Kamu memang harus diberi pelajaran cil!" kata gajah sambil berjalan meninggalkan tempat itu.
"Waduh Pak Gajah Tolong akuuuuuuuuuu.............!"
Gajah sepertinya tak mendengar teriakan kancil. terus saa berlalu dari tempet itu.
kancil adi putus asa. Air kolam memang tidak menenggelamkan dirinya hanya sebatas lehernya. Tapi lama-lama di tempat itu akan membuatnya mati kedinginan.
"Ampuuuuuuunnn.......tolong..................tolong............!"
Hingga sore tak ada binatang yang mendengar teriakan kancil. Kancil sudah hampir mati kaku karena kedinginan.
"Aduh celaka! Aku benar-benar akan mati di tempat ini." Kancil benar-benar ngeri membayangkan akhir hidupnya di tempat itu.
Lalu kancil berteriak keras-keras. "Hai langit dan bumi! Hai seluruh binatang yang ada di hutan! Aku bersumpah tidak akan memanfaatkan binatang lain untuk kejahilan maupun kepentinganku sendiri, kecuali.......!"
Ketika mengucapkan kata kecuali, kancil mengecilkan vulome suaranya sehingga hampir tak terdengar.
Tak disangka gajah tiba-tiba muncul di tepi kolam. Kiranya gajah sejak tadi sudah berada di tempat itu dan sengaja menyembunyikan diri. Ia penasaran mendengar ucapan lirih si kancil.
"kecuali apa cil?" tanya gajahtiba-tiba.
Kancil terkejut mendengar dan melihat kemunculan gajah yang tiba-tiba.
"Oh Pak gajah engkau datang lagi?"
"Jawab pertanyaanku Cil, kecuali apa Cil?"
"Anu Pak gajah, kecuali terpaksa untuk menyelamatka diri. Karena sebagai hewan kecil nyawa saya sering terancam oleh harimau, srigala dan buaya yang jahat!"
"Oh begitu.......?" sahut gajah. "Sekarang kamu sadar dan berjanji tidak akan berbuat jahil, iseng dan perbuatan lain yang merugikan dan mencelakakan binatang lain?"
"Benar Pak gajah!"
"Betul?"
"Betul Pak gajah saya insyap eh insyaf!"
"Baiklah sekarang aku mau menolongmu Cil." kata gajah. Lalu binatang ini menjulurkan belalainya yang panjang untuk menangkap kancil dan mengangkatnya keatas daratan.
Begitu sampai diatas tanah kancil berkata sambil bersimpuh di depan kaki gajah. "Terima kasih Pak gajah! Saya tidak akan melupakan budi baik ini."
Sejak itu Kancil jadi binatang yang baik. Tidak lagi berlaku iseng seperti dilakukannya pada beruang dan binatang-binatang lain.

Minggu, 25 Januari 2009

KANCIL MENGALAHKAN HARIMAU



KANCIL MENGALAHKAN HARIMAU

Siang itu kancil hendak pergi minum ke tepi danau di tengah hutan. Tiba-tiba datang seekor harimau. Begitu dilihatnya kancil, ia ingin menerkamnya. Dengan mata yang bersinar-sinar, ia menatap si Kancil.
Si Kancil sangat ketakutan. Cepat-cepat ia lari. Dia tidak mau menjadi mangsa harimau. melihat si kancil lari, harimau pun mengearnya. namun ia kehilangan jejak. Meskipun si Kancil sebenarnya lari lebih lambat dari dirinya, tapi si Kancil langsung menyelinap di balik rerimbunan semak-semak. Harimau ke sana kemari, tapi tetap saja si Kancil tidak ditemukan. Harimau sangat kecewa dan kesal. Ia sebenarnya sdah tidak sabar lagimenyantap daging si Kancil, namun sekali lagi si Kancil lenyap entah kemana.
Harimau kemudian menghentikan pencariannya. Ia duduk setengah berbaring sambil bersandaran d akar pohon. Matanya yang bersinar-sinar menyapu ke sekelilingnya. Beberapa saat lamanya ia termenung, sampai akhirnya ia dikejutkan oleh suara,
" Kraak .... !"
Rupanya bunyi itu berasal dari sebuah ranting patah yang diinjak oleh si Kancil di tanah. Si Kancil yang disangka telah jauh meninggalkan tempat itu, ternyata masih bersembunyi di balikrerimbunan daun. Mengetahui si Kancil masih berada tidak jauh dari tempat tersebut, harimau langsung menuju ke tempat datangnya suara. Karena keadaan tidak menguntungkan, si Kancil kemudian melarikan diri kembali.
Melihat si Kancil lari, sang harimau memanggilnya, "Hai Kancil! Jangan lari. aku tidak akan menyakitimu. Berhentilah!"
"Aku tidak akan berhenti!" jawab si Kancil. "Pasti kamu akan memangsaku".
"Percayalah Cil!" Aku tidak akan memakan dirimu. Bukankah kita bersahabat?" bujuk Harimau.
"Kalau begitu, apa jaminannya bahwa kamu tidak akan memangsaku?"
"Baiklah bila kamu masih ragu!" saya akan berjanji bahwa bila perkataanku ini bohong, maka aku rela mati di tanganmu."
Mendengar bujukan dan kata-kata manis sang Harimauyang demikian, si Kancil pun akhirnyamenghentikan larinya. Tak seberapa lama kemudian, Harimau sudah bisa menyusulnya.
Akan tetapi, sang Harimau mengingkari janjinya, Ia menbohongi si Kancil. Sebab bila tidak dibohongi, pasti si Kancil akan sulit ditangkap.
"Nah, sekarang kamu kena tipu anak manis!" ucap Harimau dengan gembira.
"Apa maksud perkataanmu itu soba?" tanya si Kancil penasaran.
"Sekarang jangan banyak tanya lagi. Sudah saatnya kamu menjadi santapanku hari ini. Aku adalah raja hutan. Siapa saja harus tunduk di bawah perintahku."
Si Kancil akhirnya menyadari bahwa dirinya ditipu. Janji yang pernah diucapkan raja hutan, hanyalah kata-kata bohong untuk mengelabuhi dirinya.
Namun karena si Kancil tergolong binatang yang cerdik, ia pun segera mencari akal untuk meloloskan diri dari maut. "Baiklah bila seperti itu yang kamu kehendaki," kata si Kancil seolah-olah telah menyerah."Tapi ..... sebenarnya kamu bukan satu-satunya raja di hutan ini!"
"Apa katamu?" tukas Harimau yang sudah tidak sabar lagi untuk segera memangsa si Kancil.
"Sebelum aku mencari air minum di danau tadi, sebenarnya aku telah bertemu dengan Harimau selain dirimu. Dan jika ingin memangsaku sebagaimana engkau inginkan. Tapi karena aku haus, terlebih dahulu aku ingin minum di danau. Setelah itu baru aku menemui dia lagi. Oleh karena itu, sebelum kau memangsaku, sebaiknya kamu bisa mengalahkan dia,"kata si Kancil.
"Bila permintaanmu demikian, maka baiklah! Akan aku penuhi.
Tapi dimana dia sekarang?
"Dia tinggal dalam sebuah sumur yang terletak di tengah hutan" jawaban si Kancil meyakinkan.
"Sekarang coba tunjukan tempat itu! Sudah tidak sabar lagi aku ingin mengalahkan dia, " kata sang Harimau dengan sombong.
"Aha...benarkan kau dapat mengalahkannya. Dia sangat besar dan kuat," Kancil memanis-manasi harimau.
"Sudah jangan banyak cakap, antarkan aku kepadanya".
"Baiklah mari ikut aku!"
Si Kancil berjalan lebih dahulu. Sementara sang Harimau mengiringi di belakangnya. Setelah menyusuri jalan yang agak menanjak dan berbelok dua kali, tibalah keduanya ditempat yang telah disetujuai. Sebuah sumur yang cukup dalam dan ditumbuhi oleh rumput-rumput agak panjang di sekelilingnya, sekarang telah berada di hhadapannya,"Inilah tempat yang saya maksud!" kata si Kancil.
"Cobalah kamu tengok ke dalam. Pasti kamu akan melihat seekor harimau di dalamnya".
Sang Harimau kemudian berjalan mendekati bibir sumur. Ia kemudian langsung menengok ke bawah. Harimau itu melihat dengan jelas bahwa di dalam sumur juga ada Harimau yang mirip dengan dirinya. Harimau itu meraung dengan keras."Auuuuuuuggggg ..........!" suaranya terdengar ke seluruh penjuru.
Saat itu pula dari dalam sumur juga ada suara aungan yang sama.
"Nah, dia juga meraung sobat!" kata si Kancil. "Mungkin dia menantangmu".
"Apa...? Dia berani menantangku?"
"Benar! Bila kamu tidak percaya, meraunglah sekali lagi. Dia pasti akan merang juga sebagai pertanda bahwa dia juga beran kepadamu," ucap si Kancil meyakinkan.
Sang Harimaupun meraung sekali lagi. Raungannya sangat keras melebihi sebelumnya. Dan ternyata benar! Dari dalam sumr terdengar suara harimau yang meraung. Maka sang harimau menjadi marah dan segeralah id melompat ke dalam sumur.
"Byuuuurrrr!" suaranya begitu bergema dari dalam sumur dan airnya pun menjadi keruh.
Namun apa yang terjadi? Ternyata di dalam sumur itu tidak ada harimau lain selain dirinya sendiri. Suara raungan itu tidak lain hanyalah pantulan dari gema suaranya sendiri. Sedangkan yang dilihat di dalam sumr ada harimau lain, itu hanyalah bayangan dirinya sebab air yang ada di dalam sumur sangat jernih dan menjadi keruh setelah dia melompat ke dalamnya.
Dengan berlagak bodoh, si Kancil lalu berkata, "Bagaimana sobat! Apakah kamu bisa mengalahkan dia?"
"Ternyata kamu menipuku!" sahut harimau bersungguh-sungguh merasa bahwa dirinya telah dikerjai oleh kancil.
"Itulah balasannya bagi yang mengingkari janji", jawab si kancil sambil kemudian melangkah pergi.
Tak lama kemudian, sang Harimau pun mulai kehabisan tenaga untuk berenang. sedikit demi sedikit akhirnya tubuhnya tenggelam ke dalam air.

Sumber : Bintang Indonesia

KANCIL DAN SIPUT


KANCIL DAN SIPUT

Alam pedesaan yang subur. Puluhan hektar sawah membentang hijau. Di tengah–tengah sawah yang hijau membentang, terdapat sebuah parit yang membelah cukup panjang.

Di parit itu tinggallah sekelompok Siput yang hidup rukun penuh kedamaian. Antara satu dengan yang lain saling tolong menolong; bahu membah tidak pandang bulu. Yang tua menyayangi yang muda yang muda pun selalu menghormati yang lebih tua.

Setiap pagi mereka pergi untuk mencari makan. Ada di antara mereka yang berjalan menyusuri sepanjang parit hingga sampai ke ujung. Namun ada pula yang menyebar di sawah-sawah yang ada dikanan kiri parit. Ketika sore tiba, mereka baru pulang kerumah mereka masing-masing. Adakalanya di antara mereka yang membawa makanan untuk diberikan kepada anak-anak yang masih kecil di rumah.

Pada suatu hari, tiba-tiba mereka didatangi oleh Si Kancil. Dengan langkah yang begitu meyakinkan, si kancil menyapa seekor siput yang agak jauh dari kawan-kawannya.

“Selamat pagi Siput? bagaimana kabarmu?” sapa si kancil dengan wajah berseri-seri.

“Baik-baik saja!” jawab siput. “Bagaimana dengan dirimu?”

“Seperti yang kamu lihat sendiri, aku tidak kurang apapun!”

“Cil kenapa kamu disebut binatang paling cerdik?”

“Karena aku memang pintar!” kata kancil dengan sombong.

“Oh begitu, seberapa pintarnya otakmu? tanya siput.

“Lho? Kok tanyanya begitu? kamu meledek ya?”

“Ah enggak?”

“Sudahlah put, aku memang dikenal sebagai binatang paling pintar dan kau dikenal sebagai binatang paling malas karena jalanmu yang luaaaaambaaaat. Lambat tahu!” tukas kancil.

“Cil, walau jalanku lambat tapi aku bukan pemalas. Kalau Cuma adu lari cepat denganmu aku jamin kau pasti kalah.”

“Lho? kau menantangku adu lari cepat?”

“Hanya untuk membuktikan bahwa bukan hanya kau yang berlari cepat!”

“Huahahahaha …….hahaaaaa…. siput sipuuuuuut!” Kancil mengejek.

“Kamu berani adu lari cepat Cil?” tanya siput.

“Wah-wah, kau nekad ya Put. Baik mari kita berlomba lari cepat. Kapan dilaksanakan?”

“Besok pagi!” jawab Siput dengan mantap.

Si kancil menjadi heran mendengar jawaban Siput seperti itu.

“Baiklah besok pagi aku kan datang ke parit ini”.

Si kancil melangkah menuju hutan. Sedangkan siput meneruskan usahanya untuk mencari makan. Baru setelah sore hari siput pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Siput berpikir keras untuk menemukan cara yang paling tepat guna memberi pelajaran pada di Kancil. Baru setelah tengah malam, Siput menemukan gagasan yang dianggap palin jitu. Malam itu juga ia mengumpulkan semua Siput yang ada di sekitar tempat itu. Dengan sifatnya yang suka tolong-menolong akhirnya semua Siput bersepakat untuk menaklukkan si Kancil dalam perlombaan lari besok pagi.

Ketika matahari sudah mulai muncul di ufuk timur, semua siput telah berkumpul ditempat yang sudah ditentukan sebagai arena perlombaan. Satu persatu siput-siput tersebut mulai berjejer di sepanjang parit. Mereka semua masuk ke dalam air, kecuali satu Siput yang kemarin bertemu dengan si kancil.

Setela menunggu beberapa saat, si kancil pun datang pula di tempat tersebut. “Selamat pagi Siput!” Apakah kamu sudah siap melawanku hari ini?” tanya Si Kancil dengan sombong.

“Oh tentu, cil!” sahut siput yang sejak tadi telah menunggu. “Aku sudah siap untuk mengalahkanmu“.

“Baik ayo kita laksanakan!” sahut Kancil.

“Begini, Cil!” karena aku tidak bisa lari didaratan, maka aku nanti akan berlari dalam parit, sementara kamu nanti berlari di daratan di atas pematang. Kata siput menjelaskan aturan perlombaan.

“Saya setuju. Mari sekarang kita mulai!” awab si Kancil yang sudah tidak sabar lagi.

Setelah aba-aba dibunyikan, segera keduanya memulai perlombaan. Si kancil langsung berlari diatas pematang, pembatas antara parit dengan sawah. Sementara itu, siput pun masuk ke dalam air di dalam air di parit sebelahnya. Si kancil berlari cukup cepat. Dalam hatinya, ia sudah yakin bahwa dirinya yang akan jadi pemenang. Setelah beberapa saat berlari, ia kemudian berhenti. Ia ingin memastikan, apakah siput mampu mengejarnya ataukah masih ketinggalan jauh di belakang ?

“Siput……..! Sipuuuuuuut ! Sampai dimana kau sekarang?” teriak si kancil untuk mengetahui posisi siput.

“Kuk ……. !” Hai Cil, mengapa kamu baru sampai disitu? Aku sudah berada di depanmu”.

Si kancil terkejut melihat siput muncul berada di depannya. Ia tak menyangka kalau siput mampu mendahului kecepatannya. Si kancil pun berlari lagi. Kali ini, ia berlari lebih cepat daripada sebelumnya. Dirinya tidak ingin dikalahkan oleh siput.

Beberapa saat kemudian si kancil memanggil siput lagi. “ sipuuut ……. ! sampai dimanakah kamu sekarang ?”

Sambil menampakan diri dipermukaan air, Siput pun menyahut, “Kuk, hai …….. Cil ada apa. Mengapa kamu tetap saja dibelakangku!”

Berulang kali si kancil memanggil Siput untuk mengetahui posisinya, tapi saat itu pula si kancil terkejutkarena melihat Siput selalu berada di depannya. Semua tenaga sudah dikerahkan, tapi tetap saja Siput selalu menampakkan diri dan berada di depannya. Akhirnya si kancilpun tak sanggup lagi meneruskan larinya. Ia baru mengakui bahwa siput diam-diam dapat berlari dengan cepat sekali, jauh melebihi kecepatannya.

Apa yang terjadi sesungguhnya, sehingga si kancil dapat dikalahkan oleh Siput? Si kancil ternyata kalah cerdik dengan Siput. Dia tidak menyadari bahwa di dalam parit itu sudah ada ratusan bahkan ribuan Siput-siput yang berjajar sampaii ke ujung. Sehingga setiap kali dia memanggil Siput untuk mengetahui posisinya, saat itu pula yang muncul dan menjawab adalah Siput yang berada di depannya. Jadii dengan begitu Siput yang paling awal sebenarnya tetap saja masih di belakang, di garis start. Namun hal ini tidak diketahui oleh si Kancil hingga selesai perlombaan.

Sumber : Bintang Indonesia


MENIPU PARA BUAYA



MENIPU
PARA BUAYA

Kancil memang bertubuh kecil, tapi otaknya cerdas, kalau adu lari pasti dia kalah, maka ia selalu menipu lawannya dengan akalnya yang cerdik.

Cukup lama kancil berjalan, tanpa ia sadari akhirnya kancil sampai di tepi i sungai “ wah bagaimana cara menyebrangnya ? sepertinya sungai ini cukup dalam.” Kancil merenung sejenak mencari akal. “ nah ketemu sekarang !” Ia berjalan ke arah rerumpunan pohon pisang yang masih kecil. Dengan sekuat tenaga ia dorong-dorong batang pohon pisang itu hingga satu persatu roboh.

Lho ? Apakah yang akan diperbuatnya dengan batang pohon pisang itu ?

Aha ……… ternyata si kancil mau membikin rakit untuk menyebrangi sungai.

Pintar juga dia, kini setelah rakitnya jadi ia tarik ke tepi sungai.

“ Aduh beratnya minta ampun.” Kancil mengeluh.

Tanpa disadari kancil seekor buaya besar mengintainya dari belakang dan …. Hup ! dalam sekejap kaki kancil sudah diterkam sang buaya.

“ Aduh Pak Baya ! Tunggu sebenar ………..! “

“ Tunggu apa lagi cil ? perutku sudah lapar nih !”

“ Jangan kuatir Pak Baya, aku tak mungkin bisa melawanmu, tapi aku sedang lapar juga, jadi biarkan aku mencari makan dulu !”

Anehnya Pak Baya mau mendengarkan omongan kancil, ia lepaskan gigitannya pada kaki kancil. “ salah satu dari kalian harus mengantarku ke seberang untuk mencari makanan biar tubuhku jadi gendut dan cukup untuk kalian santap bersama “

“Cil ! Kau jangan coba-coba menipuku ya ?” ancam Pak Baya.

“Mana aku berani menipumu Pak Baya !”

“Baik, sekarang kuantar kau ke seberang sungai, di sana banyak makanan buah-buahan.”

Maka kancil segera naik ke punggung Pak Baya untuk menyebrang.

“Wah ! Asyiiiik …….!” Kata kancil dengan riang gembira.

“nikmatilah kegembiraanmu karena sebentar lagi kau akan masuk ke dalam perutku.” Pikir Pak Baya.

“Ingat Cil jangan coba-coba menipuku, “ kata Pak Baya sambil menunggu di pinggir sungai, sementara kancil mencari buah-buahan untuk disantap sepuasnya.

Tak berapa lama kancil muncul lagi dengan perut lebih gendut, rupanya sudah kenyang dia makan.

“Pak Baya berapa jumlah temanmu ?”

“Banyak Cil !”

“Banyaknya itu berapa dihitung dong !”

“Belum pernah kuhitung Cil !”

“Wah payah bagaimana cara membagi dagingku nanti ?”

“Baiklah, aku yang menghitung jumlah kalian, sekarang berbarislah dengan rapi membentuk jembatan hangga ke seberang sana. “

“Setuju Cil ! Tapi karena aku pemimpin Buaya di sungai ini maka aku berhak mendapat bagian pahamu !”

Tak berapa lama kancil muncul lagi dengan perut lebih gendut, rupanya sudah kenyang dia makan.

“ Pak Baya berapa jumlah temanmu ?” “Banyak Cil !”

“Banyak itu berapa dihitung dong !”

“Belum pernah kuhitung Cil !”

“Wah payah bagaimana cara membagikan dagingku nanti ?”

“Baiklah, aku yang menghitung jumlah kalian, sekarang berbarislah dengan rapi membentuk jembatan hingga ke seberang sungai sana”.

“Setuju Cil ! tapi karena aku pemimpin Buaya di sungai ini maka aku berhak mendapatkan pahamu !” Para biaya berjajar rapi, Kancil melompat dari punggung buaya yang lain ke punggung buaya yang lainnya sambil menghitung satu, dua, tiga, empat hengga ia sampai di seberang sungai. Begitu sampai di seberang sungai kancil melampaikan tangannya.

“ Terima kasih Pak Baya dan selamat tinggal !”

“ Lho ? Cil kau jangan pergi begitu saja ! Aku belum memakanmu!”

“Apa mau memakan dagingku ? Sorry aja yah !” teriak kancil sampai berlari.

“Dasar kancil !” kamu tak bisa dipercaya ! penipu !” upat para buaya.

“Nggak apa-apa aku menipu kan hanya untuk menyelamatkan diri !”

“Kanciiiiiiiiiiiiiil ! Kembalilah !” teriak para buaya.

Tapi Kancil terus berlari kencang tanpa menghiraukan para Buaya yang hendak memangsanya.



sumber : Bintang Indonesia