Minggu, 25 Januari 2009

KANCIL MENGALAHKAN HARIMAU



KANCIL MENGALAHKAN HARIMAU

Siang itu kancil hendak pergi minum ke tepi danau di tengah hutan. Tiba-tiba datang seekor harimau. Begitu dilihatnya kancil, ia ingin menerkamnya. Dengan mata yang bersinar-sinar, ia menatap si Kancil.
Si Kancil sangat ketakutan. Cepat-cepat ia lari. Dia tidak mau menjadi mangsa harimau. melihat si kancil lari, harimau pun mengearnya. namun ia kehilangan jejak. Meskipun si Kancil sebenarnya lari lebih lambat dari dirinya, tapi si Kancil langsung menyelinap di balik rerimbunan semak-semak. Harimau ke sana kemari, tapi tetap saja si Kancil tidak ditemukan. Harimau sangat kecewa dan kesal. Ia sebenarnya sdah tidak sabar lagimenyantap daging si Kancil, namun sekali lagi si Kancil lenyap entah kemana.
Harimau kemudian menghentikan pencariannya. Ia duduk setengah berbaring sambil bersandaran d akar pohon. Matanya yang bersinar-sinar menyapu ke sekelilingnya. Beberapa saat lamanya ia termenung, sampai akhirnya ia dikejutkan oleh suara,
" Kraak .... !"
Rupanya bunyi itu berasal dari sebuah ranting patah yang diinjak oleh si Kancil di tanah. Si Kancil yang disangka telah jauh meninggalkan tempat itu, ternyata masih bersembunyi di balikrerimbunan daun. Mengetahui si Kancil masih berada tidak jauh dari tempat tersebut, harimau langsung menuju ke tempat datangnya suara. Karena keadaan tidak menguntungkan, si Kancil kemudian melarikan diri kembali.
Melihat si Kancil lari, sang harimau memanggilnya, "Hai Kancil! Jangan lari. aku tidak akan menyakitimu. Berhentilah!"
"Aku tidak akan berhenti!" jawab si Kancil. "Pasti kamu akan memangsaku".
"Percayalah Cil!" Aku tidak akan memakan dirimu. Bukankah kita bersahabat?" bujuk Harimau.
"Kalau begitu, apa jaminannya bahwa kamu tidak akan memangsaku?"
"Baiklah bila kamu masih ragu!" saya akan berjanji bahwa bila perkataanku ini bohong, maka aku rela mati di tanganmu."
Mendengar bujukan dan kata-kata manis sang Harimauyang demikian, si Kancil pun akhirnyamenghentikan larinya. Tak seberapa lama kemudian, Harimau sudah bisa menyusulnya.
Akan tetapi, sang Harimau mengingkari janjinya, Ia menbohongi si Kancil. Sebab bila tidak dibohongi, pasti si Kancil akan sulit ditangkap.
"Nah, sekarang kamu kena tipu anak manis!" ucap Harimau dengan gembira.
"Apa maksud perkataanmu itu soba?" tanya si Kancil penasaran.
"Sekarang jangan banyak tanya lagi. Sudah saatnya kamu menjadi santapanku hari ini. Aku adalah raja hutan. Siapa saja harus tunduk di bawah perintahku."
Si Kancil akhirnya menyadari bahwa dirinya ditipu. Janji yang pernah diucapkan raja hutan, hanyalah kata-kata bohong untuk mengelabuhi dirinya.
Namun karena si Kancil tergolong binatang yang cerdik, ia pun segera mencari akal untuk meloloskan diri dari maut. "Baiklah bila seperti itu yang kamu kehendaki," kata si Kancil seolah-olah telah menyerah."Tapi ..... sebenarnya kamu bukan satu-satunya raja di hutan ini!"
"Apa katamu?" tukas Harimau yang sudah tidak sabar lagi untuk segera memangsa si Kancil.
"Sebelum aku mencari air minum di danau tadi, sebenarnya aku telah bertemu dengan Harimau selain dirimu. Dan jika ingin memangsaku sebagaimana engkau inginkan. Tapi karena aku haus, terlebih dahulu aku ingin minum di danau. Setelah itu baru aku menemui dia lagi. Oleh karena itu, sebelum kau memangsaku, sebaiknya kamu bisa mengalahkan dia,"kata si Kancil.
"Bila permintaanmu demikian, maka baiklah! Akan aku penuhi.
Tapi dimana dia sekarang?
"Dia tinggal dalam sebuah sumur yang terletak di tengah hutan" jawaban si Kancil meyakinkan.
"Sekarang coba tunjukan tempat itu! Sudah tidak sabar lagi aku ingin mengalahkan dia, " kata sang Harimau dengan sombong.
"Aha...benarkan kau dapat mengalahkannya. Dia sangat besar dan kuat," Kancil memanis-manasi harimau.
"Sudah jangan banyak cakap, antarkan aku kepadanya".
"Baiklah mari ikut aku!"
Si Kancil berjalan lebih dahulu. Sementara sang Harimau mengiringi di belakangnya. Setelah menyusuri jalan yang agak menanjak dan berbelok dua kali, tibalah keduanya ditempat yang telah disetujuai. Sebuah sumur yang cukup dalam dan ditumbuhi oleh rumput-rumput agak panjang di sekelilingnya, sekarang telah berada di hhadapannya,"Inilah tempat yang saya maksud!" kata si Kancil.
"Cobalah kamu tengok ke dalam. Pasti kamu akan melihat seekor harimau di dalamnya".
Sang Harimau kemudian berjalan mendekati bibir sumur. Ia kemudian langsung menengok ke bawah. Harimau itu melihat dengan jelas bahwa di dalam sumur juga ada Harimau yang mirip dengan dirinya. Harimau itu meraung dengan keras."Auuuuuuuggggg ..........!" suaranya terdengar ke seluruh penjuru.
Saat itu pula dari dalam sumur juga ada suara aungan yang sama.
"Nah, dia juga meraung sobat!" kata si Kancil. "Mungkin dia menantangmu".
"Apa...? Dia berani menantangku?"
"Benar! Bila kamu tidak percaya, meraunglah sekali lagi. Dia pasti akan merang juga sebagai pertanda bahwa dia juga beran kepadamu," ucap si Kancil meyakinkan.
Sang Harimaupun meraung sekali lagi. Raungannya sangat keras melebihi sebelumnya. Dan ternyata benar! Dari dalam sumr terdengar suara harimau yang meraung. Maka sang harimau menjadi marah dan segeralah id melompat ke dalam sumur.
"Byuuuurrrr!" suaranya begitu bergema dari dalam sumur dan airnya pun menjadi keruh.
Namun apa yang terjadi? Ternyata di dalam sumur itu tidak ada harimau lain selain dirinya sendiri. Suara raungan itu tidak lain hanyalah pantulan dari gema suaranya sendiri. Sedangkan yang dilihat di dalam sumr ada harimau lain, itu hanyalah bayangan dirinya sebab air yang ada di dalam sumur sangat jernih dan menjadi keruh setelah dia melompat ke dalamnya.
Dengan berlagak bodoh, si Kancil lalu berkata, "Bagaimana sobat! Apakah kamu bisa mengalahkan dia?"
"Ternyata kamu menipuku!" sahut harimau bersungguh-sungguh merasa bahwa dirinya telah dikerjai oleh kancil.
"Itulah balasannya bagi yang mengingkari janji", jawab si kancil sambil kemudian melangkah pergi.
Tak lama kemudian, sang Harimau pun mulai kehabisan tenaga untuk berenang. sedikit demi sedikit akhirnya tubuhnya tenggelam ke dalam air.

Sumber : Bintang Indonesia

KANCIL DAN SIPUT


KANCIL DAN SIPUT

Alam pedesaan yang subur. Puluhan hektar sawah membentang hijau. Di tengah–tengah sawah yang hijau membentang, terdapat sebuah parit yang membelah cukup panjang.

Di parit itu tinggallah sekelompok Siput yang hidup rukun penuh kedamaian. Antara satu dengan yang lain saling tolong menolong; bahu membah tidak pandang bulu. Yang tua menyayangi yang muda yang muda pun selalu menghormati yang lebih tua.

Setiap pagi mereka pergi untuk mencari makan. Ada di antara mereka yang berjalan menyusuri sepanjang parit hingga sampai ke ujung. Namun ada pula yang menyebar di sawah-sawah yang ada dikanan kiri parit. Ketika sore tiba, mereka baru pulang kerumah mereka masing-masing. Adakalanya di antara mereka yang membawa makanan untuk diberikan kepada anak-anak yang masih kecil di rumah.

Pada suatu hari, tiba-tiba mereka didatangi oleh Si Kancil. Dengan langkah yang begitu meyakinkan, si kancil menyapa seekor siput yang agak jauh dari kawan-kawannya.

“Selamat pagi Siput? bagaimana kabarmu?” sapa si kancil dengan wajah berseri-seri.

“Baik-baik saja!” jawab siput. “Bagaimana dengan dirimu?”

“Seperti yang kamu lihat sendiri, aku tidak kurang apapun!”

“Cil kenapa kamu disebut binatang paling cerdik?”

“Karena aku memang pintar!” kata kancil dengan sombong.

“Oh begitu, seberapa pintarnya otakmu? tanya siput.

“Lho? Kok tanyanya begitu? kamu meledek ya?”

“Ah enggak?”

“Sudahlah put, aku memang dikenal sebagai binatang paling pintar dan kau dikenal sebagai binatang paling malas karena jalanmu yang luaaaaambaaaat. Lambat tahu!” tukas kancil.

“Cil, walau jalanku lambat tapi aku bukan pemalas. Kalau Cuma adu lari cepat denganmu aku jamin kau pasti kalah.”

“Lho? kau menantangku adu lari cepat?”

“Hanya untuk membuktikan bahwa bukan hanya kau yang berlari cepat!”

“Huahahahaha …….hahaaaaa…. siput sipuuuuuut!” Kancil mengejek.

“Kamu berani adu lari cepat Cil?” tanya siput.

“Wah-wah, kau nekad ya Put. Baik mari kita berlomba lari cepat. Kapan dilaksanakan?”

“Besok pagi!” jawab Siput dengan mantap.

Si kancil menjadi heran mendengar jawaban Siput seperti itu.

“Baiklah besok pagi aku kan datang ke parit ini”.

Si kancil melangkah menuju hutan. Sedangkan siput meneruskan usahanya untuk mencari makan. Baru setelah sore hari siput pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, Siput berpikir keras untuk menemukan cara yang paling tepat guna memberi pelajaran pada di Kancil. Baru setelah tengah malam, Siput menemukan gagasan yang dianggap palin jitu. Malam itu juga ia mengumpulkan semua Siput yang ada di sekitar tempat itu. Dengan sifatnya yang suka tolong-menolong akhirnya semua Siput bersepakat untuk menaklukkan si Kancil dalam perlombaan lari besok pagi.

Ketika matahari sudah mulai muncul di ufuk timur, semua siput telah berkumpul ditempat yang sudah ditentukan sebagai arena perlombaan. Satu persatu siput-siput tersebut mulai berjejer di sepanjang parit. Mereka semua masuk ke dalam air, kecuali satu Siput yang kemarin bertemu dengan si kancil.

Setela menunggu beberapa saat, si kancil pun datang pula di tempat tersebut. “Selamat pagi Siput!” Apakah kamu sudah siap melawanku hari ini?” tanya Si Kancil dengan sombong.

“Oh tentu, cil!” sahut siput yang sejak tadi telah menunggu. “Aku sudah siap untuk mengalahkanmu“.

“Baik ayo kita laksanakan!” sahut Kancil.

“Begini, Cil!” karena aku tidak bisa lari didaratan, maka aku nanti akan berlari dalam parit, sementara kamu nanti berlari di daratan di atas pematang. Kata siput menjelaskan aturan perlombaan.

“Saya setuju. Mari sekarang kita mulai!” awab si Kancil yang sudah tidak sabar lagi.

Setelah aba-aba dibunyikan, segera keduanya memulai perlombaan. Si kancil langsung berlari diatas pematang, pembatas antara parit dengan sawah. Sementara itu, siput pun masuk ke dalam air di dalam air di parit sebelahnya. Si kancil berlari cukup cepat. Dalam hatinya, ia sudah yakin bahwa dirinya yang akan jadi pemenang. Setelah beberapa saat berlari, ia kemudian berhenti. Ia ingin memastikan, apakah siput mampu mengejarnya ataukah masih ketinggalan jauh di belakang ?

“Siput……..! Sipuuuuuuut ! Sampai dimana kau sekarang?” teriak si kancil untuk mengetahui posisi siput.

“Kuk ……. !” Hai Cil, mengapa kamu baru sampai disitu? Aku sudah berada di depanmu”.

Si kancil terkejut melihat siput muncul berada di depannya. Ia tak menyangka kalau siput mampu mendahului kecepatannya. Si kancil pun berlari lagi. Kali ini, ia berlari lebih cepat daripada sebelumnya. Dirinya tidak ingin dikalahkan oleh siput.

Beberapa saat kemudian si kancil memanggil siput lagi. “ sipuuut ……. ! sampai dimanakah kamu sekarang ?”

Sambil menampakan diri dipermukaan air, Siput pun menyahut, “Kuk, hai …….. Cil ada apa. Mengapa kamu tetap saja dibelakangku!”

Berulang kali si kancil memanggil Siput untuk mengetahui posisinya, tapi saat itu pula si kancil terkejutkarena melihat Siput selalu berada di depannya. Semua tenaga sudah dikerahkan, tapi tetap saja Siput selalu menampakkan diri dan berada di depannya. Akhirnya si kancilpun tak sanggup lagi meneruskan larinya. Ia baru mengakui bahwa siput diam-diam dapat berlari dengan cepat sekali, jauh melebihi kecepatannya.

Apa yang terjadi sesungguhnya, sehingga si kancil dapat dikalahkan oleh Siput? Si kancil ternyata kalah cerdik dengan Siput. Dia tidak menyadari bahwa di dalam parit itu sudah ada ratusan bahkan ribuan Siput-siput yang berjajar sampaii ke ujung. Sehingga setiap kali dia memanggil Siput untuk mengetahui posisinya, saat itu pula yang muncul dan menjawab adalah Siput yang berada di depannya. Jadii dengan begitu Siput yang paling awal sebenarnya tetap saja masih di belakang, di garis start. Namun hal ini tidak diketahui oleh si Kancil hingga selesai perlombaan.

Sumber : Bintang Indonesia


MENIPU PARA BUAYA



MENIPU
PARA BUAYA

Kancil memang bertubuh kecil, tapi otaknya cerdas, kalau adu lari pasti dia kalah, maka ia selalu menipu lawannya dengan akalnya yang cerdik.

Cukup lama kancil berjalan, tanpa ia sadari akhirnya kancil sampai di tepi i sungai “ wah bagaimana cara menyebrangnya ? sepertinya sungai ini cukup dalam.” Kancil merenung sejenak mencari akal. “ nah ketemu sekarang !” Ia berjalan ke arah rerumpunan pohon pisang yang masih kecil. Dengan sekuat tenaga ia dorong-dorong batang pohon pisang itu hingga satu persatu roboh.

Lho ? Apakah yang akan diperbuatnya dengan batang pohon pisang itu ?

Aha ……… ternyata si kancil mau membikin rakit untuk menyebrangi sungai.

Pintar juga dia, kini setelah rakitnya jadi ia tarik ke tepi sungai.

“ Aduh beratnya minta ampun.” Kancil mengeluh.

Tanpa disadari kancil seekor buaya besar mengintainya dari belakang dan …. Hup ! dalam sekejap kaki kancil sudah diterkam sang buaya.

“ Aduh Pak Baya ! Tunggu sebenar ………..! “

“ Tunggu apa lagi cil ? perutku sudah lapar nih !”

“ Jangan kuatir Pak Baya, aku tak mungkin bisa melawanmu, tapi aku sedang lapar juga, jadi biarkan aku mencari makan dulu !”

Anehnya Pak Baya mau mendengarkan omongan kancil, ia lepaskan gigitannya pada kaki kancil. “ salah satu dari kalian harus mengantarku ke seberang untuk mencari makanan biar tubuhku jadi gendut dan cukup untuk kalian santap bersama “

“Cil ! Kau jangan coba-coba menipuku ya ?” ancam Pak Baya.

“Mana aku berani menipumu Pak Baya !”

“Baik, sekarang kuantar kau ke seberang sungai, di sana banyak makanan buah-buahan.”

Maka kancil segera naik ke punggung Pak Baya untuk menyebrang.

“Wah ! Asyiiiik …….!” Kata kancil dengan riang gembira.

“nikmatilah kegembiraanmu karena sebentar lagi kau akan masuk ke dalam perutku.” Pikir Pak Baya.

“Ingat Cil jangan coba-coba menipuku, “ kata Pak Baya sambil menunggu di pinggir sungai, sementara kancil mencari buah-buahan untuk disantap sepuasnya.

Tak berapa lama kancil muncul lagi dengan perut lebih gendut, rupanya sudah kenyang dia makan.

“Pak Baya berapa jumlah temanmu ?”

“Banyak Cil !”

“Banyaknya itu berapa dihitung dong !”

“Belum pernah kuhitung Cil !”

“Wah payah bagaimana cara membagi dagingku nanti ?”

“Baiklah, aku yang menghitung jumlah kalian, sekarang berbarislah dengan rapi membentuk jembatan hangga ke seberang sana. “

“Setuju Cil ! Tapi karena aku pemimpin Buaya di sungai ini maka aku berhak mendapat bagian pahamu !”

Tak berapa lama kancil muncul lagi dengan perut lebih gendut, rupanya sudah kenyang dia makan.

“ Pak Baya berapa jumlah temanmu ?” “Banyak Cil !”

“Banyak itu berapa dihitung dong !”

“Belum pernah kuhitung Cil !”

“Wah payah bagaimana cara membagikan dagingku nanti ?”

“Baiklah, aku yang menghitung jumlah kalian, sekarang berbarislah dengan rapi membentuk jembatan hingga ke seberang sungai sana”.

“Setuju Cil ! tapi karena aku pemimpin Buaya di sungai ini maka aku berhak mendapatkan pahamu !” Para biaya berjajar rapi, Kancil melompat dari punggung buaya yang lain ke punggung buaya yang lainnya sambil menghitung satu, dua, tiga, empat hengga ia sampai di seberang sungai. Begitu sampai di seberang sungai kancil melampaikan tangannya.

“ Terima kasih Pak Baya dan selamat tinggal !”

“ Lho ? Cil kau jangan pergi begitu saja ! Aku belum memakanmu!”

“Apa mau memakan dagingku ? Sorry aja yah !” teriak kancil sampai berlari.

“Dasar kancil !” kamu tak bisa dipercaya ! penipu !” upat para buaya.

“Nggak apa-apa aku menipu kan hanya untuk menyelamatkan diri !”

“Kanciiiiiiiiiiiiiil ! Kembalilah !” teriak para buaya.

Tapi Kancil terus berlari kencang tanpa menghiraukan para Buaya yang hendak memangsanya.



sumber : Bintang Indonesia